Jika membaca tulisan ini mungkin kalian akan berpikir mungkin saya lagi ngelindur, kejedot pintu atau bisa jadi kerasukan Mario teguh. Kenapa? Karena dalam kesempatan ini saya ingin berbagi pengalaman dan motivasi atau istilah lainnya curhat.
Seringkali dalam hidup, terbersit dalam ingatan atau dalam hati suatu keinginan atau hal yang yang ingin kita lakukan atau dicita-citakan. Adanya suatu keinginan kita menjadi sesuatu yang berguna bagi diri sendiri, orang tua, keluarga, lingkungan sekitar atau bahkan dalam skala besar agama bangsa dan Negara. Menurut saya pribadi hal tersebut bukanlah hal yang tidak mungkin. Berdasarkan pengamatan saya dari berbagai media yang berkembang dewasa ini, banyak sekali kita menyaksikan kisah seseorang yang tumbuh dan mucul dari sesorang yang bukan siapa-siapa menjadi seseorang yang ‘wow’ atau jika kita mengambil istilah kulon ‘from zero to hero’.
Ok, kali ini saya ingin mengupas tentang tiga kata yang saya dapat ketika saya bangun pagi ini (20 Agustus 2014) yaitu Kemauan, tekad dan usaha. Entah kenapa pas bangun tiga kata itu yang muncul di kepala. Awalnya mungkin karena pada hari sebelumnya saya termenung dan berpikir tentang kebiasaan buruk saya selama ini yakni tidur shubuh, ya kegiatan yang sebenarnya menurut agama juga sangat tidak dianjurkan namun sudah menjadi kebiasaan yang sulit untuk diubah di diri saya. Setelah shalat shubuh, dzikir wirid seadanya, tadarus lalu kemudian meluncur kembali ke kasur, malah setelah bangun cukup shalat setelah itu langsung ker sare deui. Lantas saya berpikir kalau tiap hari bertahun tahun seperti itu terus mau jadi apa saya ini? Pagi yang merupakan waktu berkah hanya digunakan untuk istirahat, ups bukan itu malas-malasan sebenarnya karena sebenarnya istirahat semalam juga sudah cukup. Oleh karena itu saya mencanangkan sebuah program bagi saya sendiri yang bertajuk #ShubuhProduktif. Naon eta? Yaitu sebuah gerakan di mana setelah bangun, shalat shubuh, dzikir, wirid, tadarus Al Quran tidak dilanjutkan kembali dengan tidur melainkan dilanjut dengan kegiatan-kegiatan positif yang produktif dan bermanfaat dengan harapan kegiatan tersebut mampu memperbaiki hidup ini ke arah yang lebih baik dan bermakna. Kegiatan shubuh yang bisa dilakukan antara lain ikut majlis ilmu, baik hadir langsung ke pengajian ataupun melalui televisi dan radio. Selain itu juga bisa belajar hal lainnya seperti ngafal quran, ngafal hadist atau ngoding, nulis dan lain-lain.
Baiklah mulai ke judul, tentunya dalam melakukan kebaikan itu ada hal-hal yang perlu ditumbuhkan dalam diri. Yang pertama biasanya karena adanya suatu hasrat, dorongan dalam diri atau adanya kemauan. Saya rasa hal itu juga merupakan sebuah faktor awal dari sesuatu. Contoh mau makan nih, mau main nih, mau gini, mau gitu mau mau mau. Dari kemauan tersebut selanjutnya lahirkanlah sebuah niat dalam diri untuk mewujudkan kemauan, keinginan kita tersebut.
Selanjutnya setelah adanya kemauan munculkan tekad. Berazzam dalam hati. Apa sih tekad teh? Menurut kamus saya tekad adalah kesungguh-sungguhan, membulatkan dan menguatkan hati serta keyakinan untuk maju dalam kebaikan. Adanya kepercayaan diri juga bahwa kita mampu untuk melakukan perubahan ke arah yang lebih baik.
Next step adalah usaha atau ikhtiar yakni perwujudan atau tidakan nyata dari niat kita. Mulai dari action yang tentunya mengarah dari niat awal kita untuk kebaikan, lebih baik dan terus lebih baik. Doa, saya masukan juga ke dalam ikhtiar, karena menurut saya doa adalah usaha kita dalam terus mengisi rohani kita agar semakin dekat dengan Yang Maha Menguasai segala apa-apa yang kita usahakan. Tentunya hati kita harus selalu manteng agar segala usaha yang kita lakukan tidak bertentangan dengan syariat yang telah Allah tentukan.
Dalam usaha atau ikhtiar ini menurut saya godaannya yang paling sangat kuat. Orang bisa saja memunculkan keinginan dan tekad mewujudkannya namun akhirnya tidak jadi karena gagal dalam tahap ini. Maksudnya bukan gagal dalam arti niat awal pengen A yang didapati ternyata B, namun kegagalan dalam keistiqomahan dan kesinambungan dalam usaha tersebut. Apalagi kalau baru awal-awal kan belum terbiasa dan masih keenakan dengan kebiasaan lama yang didukung hawa nafsu. Diperlukan banyak faktor untuk menunjang ikhtiar ini agar terus hidup dan berkelanjutan. Antara lain dari segi keilmuan, saya rasa ilmu adalah benteng dan sumber kekuatan untuk terus istiqomah dan terhindar dari keburukan. Oleh karena itu teruslah menggali ilmu untuk mengisi pemahaman ke kekuatan hati kita. Banyak jalan menuju Roma, bisa naik kapal, bisa naik odong-odong bisa lewat susukan ataupun lewat dinya. Belajar dari pengamatan dan mengambil hikmah dari kisah orang lain juga bisa menambah khazanah kita, tentunya teruslah menggali dan berguru pada seorang ahli adalah hal yang paling penting da kita mah bukan nabi yang akan mendapat wahyu.
Ah tapi banyak koq yang punya banyak ilmu namun tetap gagal dalam kebaikan bahkan malah melakukan hal-hal yang jauh dari keilmuan dan kebaikan. Ok, saya katakan tadi banyak faktor yang mempengaruhinya tentunya hal itu berkaitan dengan keimanan seseorang tersebut. Dengan adanya kejadian tersebut jangan lantas kita men-judge orang-orang berilmu itu jahat. Jika kita melihat fakta atau data silakan bandingkan lebih banyak mana keburukan yang dilakukan orang yang tidak berilmu dan yang tidak berilmu, sudah jelas tertera dalam Al quran bahwa Allah meninggikan derajat orang-orang yang berilmu dan tentunya beriman. Dipastikan juga bahwa iman tak akan didapatkan oleh orang-orang tak berilmu sama sekali.
Baiklah sudah ah, saya rasa semakin banyak bicara semakin banyak ke sana ke sini. Intinya dalam melakukan sesuatu yang positif harus ada kemauan, keinginan,azzam, niat lalu tekadkan dan yakinkan hati serta berusaha dan teruslah berusaha.
Terima kasih atas apresiasi sahabat yang telah bersedia membaca curhatan saya. Saya tunggu feedback dari sahabat-sahabat sekalian baik itu komentar, saran dan kritik ataupun yang lain untuk perbaikan ke depan:)