Akhir tahun 90-an sampai awal tahun 2000, kawula muda muslim di Indonesia tercatat sedang tinggi ghirahnya (ghirah = semangat).
Remaja putri berbondong-bondong menutup aurat, mengenakan jilbab yang pada jaman sebelumnya dianggap kucel dan tidak kece.
Pilihan bacaan bergeser dari majalah Gadis dan Mode menjadi Annida. Kisah-kisah fiksi Islami bertaburan dan sempat meraja.
Di segmen hiburan, lahir pula sederet grup-grup nasyid yang mengenalkan
warna baru dalam lagu. Tak hanya lirik reliji yang syahdu dalam karya
musik Bimbo namun menjadi sajian nada indah dari Raihan dan SNADA.
Makin ke sini bertambah grup-grup nasyid yang lebih semarak. Dari yang
mendayu-dayu sampai yang ngerap. Muncul pula grup-grup yang personilnya
lebih muda, dan lebih ganteng.
Di era 2002-2005 saya mengingat
banyak sekali munsyid (sebutan untuk penyanyi nasyid) yang muda dan
'digilai' para muslimah. Saya sering menyaksikan wajah berbinar seorang
akhwat saat bercerita betapa kerennya grup nasyid anu, betapa meriah
konsernya, dan betapa sukanya ia pada personil tertentu.
Dulu,
sempat saya berbincang dengan rekan sejawat mengenai fenomena nasyid
ini. Kami mempertanyakan apa bedanya histeria para akhwat saat nonton
konser nasyid dengan histeria remaja lain saat nonton boyband barat?
Sama-sama jerit-jerit dan teriak, "iih gemeees".
Beberapa waktu
terakhir ini, saya menyaksikan fenomena yang mirip. Dimulai dari Fatih
Seferagic, hafiz muda asal Amerika Serikat yang pernah diundang ke
Indonesia. Diundang ke sana kemari (which I don't mind, really), dan
.... dipuja para akhwat.
Saya sempat melihat video saat Fatih
diundang ke Bandung, berdampingan dengan Kang Emil dan banyak remaja
putri yang berteriak tertahan menyaksikan ketampanan (?) Fatih. Ibu-ibu
tak ketinggalan. Kaum perempuan berebut ingin berfoto bersama Fatih.
Pekan ini, giliran Muzzamil Hasballah yang menjadi fokus. Ia menjadi
tersangka utama gerakan patah hati nasional (setelah sebelumnya dipegang
oleh Raisa-Hamish).
Selama beberapa hari, saya melihat banyak
akhwat memasang tagar patah hati nasional, sebab Muzzamil yang saleh dan
penghapal Quran menikahi seorang perempuan asal Aceh.
Memang
tak ada jerit tertahan kali ini. Memang tak ada teriakan histeria. Namun
banyak sekali rangkaian kalimat yang mau tak mau membuat saya terenyuh.
Hai, para akhwat, apa yang terjadi dengan kalian?
Memang kalian tidak mengidolakan Shawn Mendez atau Zayn Malik. Kalian
mengidolakan seorang muda penghapal Quran yang tak hanya pintar secara
akademis namun juga secara spiritual. Tapi pantaskah segala macam
ucapan,
"Ah mau deeeeh punya suami kayak Muzzamil, kayaknya hidup jadi adem ..."
"Ah mau deeeeh punya suami kayak Muzzamil, kayaknya hidup jadi adem ..."
Sis, istighfar atuh, sis. Izzah mana izzah?
(= Kehormatan diri)
Lebih lucu lagi, ketika banyak emak-emak yang sama bapernya. Ikutan
nimbrung berkomentar betapa kerennya seorang Muzzamil. Bahkan saya lihat
seorang ibu mention nama suaminya di statusnya. Husnuzon-nya mah
mungkin biar suaminya baca dan mencarikan menantu seperti Muzzamil untuk
anak mereka. Ehh.
Ya ya, saya tahu. Mungkin sebagian dari mereka
mungkin bercanda. Sebab saya juga tukang heureuy. Sebab saya juga
ketawa geli membaca beberapa twit soal Hamish-Raisa atau
Chelsea-Bastian.
Tapi ketika segerombolan remaja muslimah
berjilbab rapi terpesona terhadap sosok-sosok tertentu, apalagi sampai
baper berlebihan, kok saya ga enak melihatnya ya.
Mungkin karena
ekspektasi saya terhadap para akhwat begitu tinggi. Mungkin. Padahal toh
usia mereka sama mudanya dengan remaja lainnya.
Cerita sedikit.
Ada dua orang mahasiswi yang beres saya mengajar terkadang menunggu saya di tempat parkir. Buat apa? Buat curhat.
Salah satu dari mereka mengadu soal jodoh yang tak kunjung tiba,
padahal dia sudah sangat ingin menikah. FYI, keduanya berjilbab amat
rapi, sopan dan relijius.
Sementara yang satu lagi cemas soal bagaimana cara bergaul dengan lawan jenis tanpa terjerumus fitnah.
Keduanya ingin segera mengakhiri masa kesendirian di usia muda (mereka
usia sekitar 19-20 tahun) dan bertemu dengan ikhwan soleh.
"Soleh aja cukup?" Tanya saya.
"Ya harus udah punya penghasilan juga atuh Miss"
Saya mengangguk setuju.
"Ya harus udah punya penghasilan juga atuh Miss"
Saya mengangguk setuju.
"Siap berumahtangga?"
"Siap." Angguk mereka mantap.
"Siap jadi ibu?"
Mereka ketawa berdua.
"Siap." Angguk mereka mantap.
"Siap jadi ibu?"
Mereka ketawa berdua.
Semakin lama mengobrol dengan mereka semakin ragu saya dengan itikad
baik itu. Akhirnya saya menyarankan, bagaimana kalo sambil menunggu
jodoh, mereka terus belajar dan bekerja. Karena kalau cuman menunggu
aja, waktu yang ada jadi tersia-sia.
Anak-anakku yang solehah,
Saya yakin perempuan yang berjodoh dengan Muzzamil adalah perempuan istimewa. Ia pasti sama baik dan berharganya.
Urusan jodoh itu pelik dan serba mengejutkan. Sebab ia datang tak
disangka. Namun ustadz saya selalu bilang, kalau kamu mau jodoh yang
baik, kamu dulu yang baik. Kalau kamu pengen anakmu baik, kamu dulu yang
jadi baik.
Jangan terjebak dengan mimpi menikah di usia muda
dengan seseorang yang soleh dan mapan. Sebab jalan menuju ke sana tidak
instan seperti indomie sambal matah.
Kenapa kalian tidak bertekad mendapatkan jodoh yang baik sambil santai? Ndak usah nggrusu, kata orang Jawa.
Sementara itu, pintarlah kamu. Belajar yang banyak. Sebab menikah bukan
hanya soal memandangi suamimu yang ganteng sambil memanaskan sayur
kiriman mertua.
Pada waktunya kamu akan tau bahwa tidak segampang itu hidup bersama orang yang sama seumur hidupmu.
Pada waktunya kamu mungkin akan hamil, melahirkan, mengurus anak. Sudah
siap belum? Sementara nanti ada masa kehamilan yang berat, kelahiran
yang super berat dan baby blues yang menyiksa.
Jangan terlalu
sering nonton drama Korea atau film India yang endingnya pasti hepi.
Pernikahan bukan hanya soal jantung yang menghentak saat ia memandangimu
sambil menyodorkan setangkai mawar merah.
Please, be smart.
Sekarang kita butuh mamak-mamak yang pintar luar biasa. Emak bijak yang
takkan gampang rempong saat membaca berita hoax yang belum tentu benar.
Dan untuk bisa begitu, tidak akan bisa dicapai hanya dengan
menjerit-jerit melihat wajah Fatih Seferagic dan menangis baper melihat
Muzzamil menikah.
Bangun hei,
Muzzamil dan Fatih itu
contoh baik. Namun kalian tidak kenal mereka. Dan kecil kemungkinannya,
kalian akan bertemu mereka lebih intens daripada sekedar menuliskan
komen di instagram.
Jangan membuat para lelaki rendah diri sebab kalian terus-terusan menyebut nama penghapal Quran sebagai benchmark.
Mana tau ada lelaki di luar sana yang baik, agamanya bagus namun ia
masih belajar mengaji. Jangan letakkan Muzzamil atau Fatih di antara
kalian. Nanti mereka semakin melesak dalam jurang ketidakberdayaan dalam
mendongkrak kepercayaan diri.
Sudah jomblo, kuliah belum beres, kerjaan belum jelas, saingannya penghapal Quran lagi.
Saya turut berduka cita deh.
Dan hei, para gadis.
Selagi ada waktu, carilah ilmu sebanyak-banyaknya. Jodoh belum datang,
ga usah baper, sekolah lagi aja, sambil nunggu. Belum datang juga, kerja
dulu. Santai aja. Kalau kamu usahanya oke, yakin dong sama janji Alloh.
Dan jangan menggampangkan persiapan pernikahan. Jangan berpikir bahwa
semua lelaki asal baik akan langsung bisa melamar kamu. Sementara
tuntutan masyarakat tinggi, tuntutan keluargamu tinggi. Memangnya kamu
mau hanya dipinang pake uang seadanya plus ga pake resepsi? Kalo mau
cepet sanah cari penghulu (dan lelaki yang mau).
Ingat, kamu itu hidupnya di dunia nyata. Bukan drama sinetron.
Bangun, dan belajarlah.
Mau mengejar karir kek, mau mendapat jodoh laki-laki soleh kek, semuanya butuh ilmu.
Kasihan anakmu kelak. Ia tak hanya butuh kamu sebagai ibu, tapi ia juga
butuh merasa bangga memilikimu (meminjam istilah Pidi Baiq).
Salam perempuan!
*ibu beranak 4 yang ingin semua perempuan pintar*
Catatan:
Tulisan di bawah bikin saya mantap menuliskan ini, gemees akuuu
🤣
🤣
🤣
🤣
Tulisan di bawah bikin saya mantap menuliskan ini, gemees akuuu
Terima kasih Aisha Shaidra sudah berbagi.
Sumber : https://www.facebook.com/irma.tafasha/posts/10211701983677578
Sumber : https://www.facebook.com/irma.tafasha/posts/10211701983677578











