Saya mempunyai cerita yang cukup memorable tentang uang logam atau yang kita sering sebut recehan.
Sebagai generasi 90an, recehan kala itu masih mempunyai nilai yang cukup mengenyangkan, kelas 1 SD dengan bekal 500 rupiah saja saya sudah bisa membeli bala-bala dan juga ciki Boom yang ada hadiah uang nya juga kadang 100,500 atau 1000 rupiah.
Kenangan manisnya adalah jika Bapak saya yang biasanya pulang sebulan sekali dari kota, selalu menyisihkan banyak uang logam pada tas nya. Jumlahnya bisa mencapai puluhan ribu. Menurut bapak, recehan tersebut adalah hasil kembalian dari warung kalau beliau beli makan atau jajan. Sekeping demi sekeping dikumpulkan hingga cukup banyak untuk dibawa pulang. Kalau Bapak pulang dari kota saya selalu stand by depan rumah untuk langsung mengambil dan membongkar tas bawaanya mencari kepingan-kepingan receh yang banyak. Sangat senang sekali ketika mendapat recehan tersebut. Ibu yang selalu menggoda saya dengan kalimatnya "kadieukeun ker mamah" Saya dengan manja menjawab "ih ulah ari mamah, ieu mah ker jajan ipan" Haha. Bapak tersenyum puas dan bahagia melihat tingkah lucu saya 😂😂😂
Dan kali ini pun saya melakukan hal yang sama, mengumpulkan kepingan-kepingan receh dari uang kembalian. Namun karena belum menikah dan punya anak, maka saya nikmati sendiri untuk jajan lagi, haha
Kalau pun nanti saya sudah punya anak apakah anak saya akan merasakan kesenangan dan sensasi yang sama dengan yang saya rasakan saat mendapatkan receh-receh tersebut. Haha entahlah, sepertinya saat ini anak-anak tak lagi mau kalau diberi uang jajan recehan oleh orang tua nya.
Apakah teman-teman juga ada yang mempunyai pengalaman yang sama?







0 comments:
Posting Komentar